Chord Lirik Lagu Dangdut " K "

|


Kata pujangga-Rhoma Irama

Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
Aduhai begitulah para pujangga
Taman suram tanpa bunga

Ada yang dicinta giat bekerja
Entah apa entah siapa
Karena cinta jiwa gairah
Tanpa cinta hidup pun hampa

Ternyata amat utama adanya cinta
Hai begitulah kata para pujangga
Aduhai begitulah para pujangga
Tapi jangan cinta buta

Soal cinta soal kita
Cinta kebutuhan manusia
Siapa saja memerlukannya
Karena cinta punya daya

Ternyata amat utama adanya cinta
Hai begitulah kata para pujangga
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
Aduhai begitulah para pujangga

Yee... ha! Yeh!

Ke Pasar Minggu (feat. Elvi Sukaesih)

Pria:
Marilah, Dik, mari cepat
Kita 'kan segera berangkat

Wanita:
Tunggulah , Bung, sabar dulu
Baru saja ‘ku di pintu

Pria:
Mau ke manakah tujuanmu

Wanita:
‘Ku hendak pergi ke Pasar Minggu

Pria:
Sayang tiada tempatnya lagi

Wanita:
Biar berdiri juga pun jadi

Pria:
Sediakanlah ongkosnya
Sepuluh rupiah saja

Wanita:
Nah, inilah, Bung, uangnya
Jangan lupa kembalinya

Kegagalan Cinta

Cukup sekali aku merasa
Kegagalan cinta
Takkan terulang kedua kali
Di dalam hidupku
Ho.. Ho.. Ya nasib ya nasib
Mengapa begini
Baru pertama bercinta
Sudah menderita

Cukup sekali aku merasa
Kegagalan cinta
Takkan terulang kedua kali
Di dalam hidupku

Reff:
Kau yang mulai kau yang mengakhiri
Kau yang berjanji kau yang mengingkari
Kau yang mulai kau yang mengakhiri
Kau yang berjanji kau yang mengingkari

Kalau begini akhirnya
Tak mau bermain cerita


Kehilangan

Intro I à (Cm Bb Cm) : 2X.. Cm Bb Cm
(*)
Cm              Bb         Fm            Cm
Kalau sudah tiada baru terasa
Cm              Bb                  Fm              Cm
Bahwa kehadirannya sungguh berharga
                   G                                Ab
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia
                   G                                Ab         Cm
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia

Cm              Bb         Fm          Cm
Kalau sudah tiada baru terasa
Cm              Bb                Fm                    C
Bahwa kehadirannya sungguh berharga

Intro II à Cm F G .. (Fm Cm) :4X
Reff :
       Cm                        Bb 
Ku tahu rumus dunia semua harus berpisah
        Ab                                         Bb                                  Cm
Tetapi kumohon tangguhkan, tangguhkanlah
       Cm                        Bb 
Bukan aku mengingkari apa yang harus terjadi
        Ab                                         Bb                                  Cm
Tetapi kumohon kuatkan, kuatkanlah


Kekasih
Paling disayang itu sang kekasih
Paling dimanja itu sang kekasih
Walau dicubit, tapi cubitnya sayang
Walau digigit, tapi gigitnya sayang
Disayang-sayang itu sang kekasih
Dimanja-manja itu sang kekasih

Punya uang untuk sang kekasih
Punya barang untuk sang kekasih
Lupa makan ingat sang kekasih
Lupa kawan ingat sang kekasih
Lapar jadi kenyang kalau sudah jumpa kekasih
Susah jadi senang kalau sudah jumpa kekasih

Kelana
Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari
Gunung tinggi ‘kan kudaki
Lautan kuseberangi
Aku tak perduli

Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari

Tak akan berhenti aku berkelana
Sebelum kudapat apa yang kucari
Walaupun adanya di ujung dunia
Aku ‘kan ke sana ‘tuk mendapatkannya

Mungkin hatimu bertanya
Apakah kiranya yang sedang kucari
Dalam berkelana hai selama ini
Oh baiklah kukatakan
Yang kucari adalah
Cinta yang sejati

Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari



Kelana I
Telah lama aku hidup berkelana
Dari satu tempat ke tempat lainnya
Cuma ‘tuk mencari cinta sejati
Telah lama aku hidup berkelana
Dari satu cinta ke cinta lainnya

Gunung yang tinggi ‘lah kudaki
Lautan telah kuseberangi
Gunung yang tinggi ‘lah kudaki
Lautan telah kuseberangi
Wahai di manakah cinta sejati

Aku berkelana hanya sia-sia
Karena yang tiada berjumpa
Rupanya adanya dekat sekali
Cinta yang sejati ada di rumahku
Hai tak salah lagi cintanya ibuku

Kelana II
Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari

Gunung tinggi ‘kan kudaki
Lautan kuseberangi
Aku tak perduli

Tak akan berhenti aku berkelana
Sebelum kudapat apa yang kucari
Walaupun adanya di ujung dunia
Aku ‘kan ke sana ‘tuk mendapatkannya



Kelana III
Di dalam dunia ini tiada cinta suci
Sampai mati kau mencari
Tak ‘kan engkau temui
Karena aku telah berkelana
Untuk mencarinya
Bahkan sampai ke ujung dunia
Tapi sia-sia

Semuanya kisah cinta dalam dunia ini
Ceritanya sama saja tiada yang sejati
Hanyalah pada permulaannya
Sungguh sangat mesra
Bila sudah mencapai puncaknya
Cintanya pun sirna

Berjuta-juta cinta bersemi di dunia ini
Tapi tetapi tiada satu cinta pun yang abadi
Cinta pada kekasih bukan cinta yang suci
Karena di balik cinta ada nafsu birahi
Yang membuat cinta tak murni

Kemarau
Setahun sudah tak turun hujan
Bumi kering menangis retak
Tiada daun walau sepucuk
Tiada air walau setetes

Bagaikan musafir yang haus
Di tengah gurun sahara

Panas terik sang matahari
Bagai akan membakar bumi
Begitulah bumi yang kering
Menanti hujan menyirami

Insan dan hewan turut bersedih
Pohon layu kering dan mati
Kering dilanda musim kemarau
Yang seakan tak mau berhenti
Oh Tuhan berikan rahmat-Mu
Agar kemarau berlalu

Kematian
Suatu saat pasti ‘kan datang
Saat-saat paling menakutkan
Sang malaikat pencabut nyawa
‘Kan merenggut ruhmu dari badan

Tak seorang pun yang akan dapat
Menolongmu dari kematian
Juga hartamu tak akan mampu
Menebusmu dari kematian

Ada dua cara kematian
Tergantung amal dan perbuatan
Ada yang bagai rambut dicabut dari tepung
Ini mati bagi yang taqwa

Namun bagi orang yang durjana
Mati ‘kan merupakan derita
Sakitnya bagai sutra dicabut dari duri
Ini adzab Tuhan yang nyata





Keramat
Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu

Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya

Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja

Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua


Kerinduan

Intro I à (F Am Dm D# C) 2X
(*)
Wanita
F                         Am              Bb                                  F
Betapa hati rindu pada dirimu, duhai kekasihku
Segeralah kembali pada diriku, duhai kekasihku

Pria:
Am                 Dm           Bb                      F  
Aku juga rindu lincah manja sikapmu
Aku sudah rindu kasih sayang darimu

Duet:
F                         Am              Bb                                  F
Semoga kita dapat bertemu lagi seperti dahulu
Supaya kita dapat bercinta lagi seperti dahulu

Intro IIà (Gm Am Gm Dm) 2X..Dm Bb Dm Bb F
Reff :

Wanita:
     F                        Bb       D#        C         F
Gelisah, hati gelisah, sejak kepergianmu
Tak sabar, hati tak sabar, menanti kedatanganmu

Pria:
Am                             Dm
Tenangkanlah hatimu, jangan gelisah
Bb                             F                        
Aku tahu kau menanti
Am                             Dm
Sabarkanlah hatimu, sabarlah sayang
Bb                             F
Aku segera kembali

KERUDUNG PUTIH

Seraut wajah cantik yang kau sembunyikan
Dibalik kerudung putih

Lagu :
Dibalik kerudung wajahmu tersembunyi
Kau cantik alami anugerah illahi
Tapi bukan karena itu aku cinta padamu
Juga bukan karena itu aku sayang padamu

Kau hiasi diri dengan budi pekerti
Kau hambakan diri kehadirat illahi
Itulah yang menyebabkan aku cinta padamu
Itulah yang menyebabkan aku sayang padamu


Dibalik kerudung wajahmu tersembunyi
Kau cantik alami anugerah illahi

Reff :
Tiada lelaki yang membantah kecantikan wajahmu
Kelembutan sikapmu keindahan senyummu
Tapi yang menyilaukan mata sinar keimananmu
Yang selalu kau pancarkan dalam setiap langkah
Gadis seperti kamu yang aku dambakan






Keroncong Melayu
Ini keroncong Melayu
Bukan keroncong yang asli
Lagunya pun asal jadi
Cuma ‘tuk menghibur diri

Ini keroncong Melayu
Keroncong yang tak karuan
Lagunya pun pakai gendang
‘Tuk membuat hati senang

Kalau merdu tak usah dipuji
Tak merdu jangan dicaci
Kalau senang silakan berdendang
Tak senang jangan dibuang, aduh saying

Kerudung Putih
Seraut wajah cantik yang kausembunyikan
Di balik kerudung putih

Di balik kerudung wajahmu tersembunyi
Kau cantik alami anugerah Ilahi
Tapi bukan karena itu aku cinta padamu
Juga bukan karena itu aku sayang padamu

Kauhiasi diri dengan budi pekerti
Kauhambakan diri ke hadirat Ilahi
Itulah yang menyebabkan aku cinta padamu
Itulah yang menyebabkan aku sayang padamu

Di balik kerudung wajahmu tersembunyi
Kau cantik alami anugerah Ilahi

Tiada lelaki yang membantah
Kecantikan wajahmu, kelembutan sikapmu
Keindahan senyummu
Tapi yang menyilaukan mata
Sinar keimananmu yang selalu kaupancarkan
Dalam setiap langkah
Gadis seperti kamu yang aku dambakan

Keruntuhan Cinta
Kasih ‘ku teringat selalu
Betapa manisnya senyummu
Takdir kasih mesra memanja
Padaku kaupasrahkan cinta
Engkau rela hidup bersama
Walaupun di dalam derita
Alangkah beruntung diriku
Mendapat balasan cintamu

Namun apa yang hendak dikata
Malang tiada dapat dihindari
Kasih tercinta telah kembali
Memenuhi panggilan Ilahi

Tinggallah puing-puing kenangan
Runtuhan dari cinta yang indah
Berserak menimbun hati ini
Menambah rasa nyeri yang pedih

Engkaulah bintang yang tak lelah terang
Cahayamu tiada lagi

Sirnalah segalah harapanku
Bak biduk dihempas badai lalu
Karamnya cinta dalam hati
Bukan karena patah berkasih
Namun takdir tak menghendaki
Hidup bertiarakan kasih
Tinggallah puing-puing kenangan
Runtuhan dari cinta yang indah

Kesesatan
Ingatlah hai para remaja
Janganlah kau asyik terlena
Sadarkan dirimu dari segala dosa
Yang akan menyesatkan jiwa

Itu semua perilaku syetan
Yang selalu akan merugikan
Tuhan telah berfirman tempatnya sang syetan
Di dalam neraka jahanam

Di-di-di-di-di-di-di-di-di
Di-di-di-di-di-di-di
Adakah dalam hatimu takut pada Tuhan
Adakah dalam hatimu penuh dengan syetan

Sekilas memang menyenangkan
Alam ini bagaikan surga
Sepintas memang mengasyikkan
Dunia ini bagai impian
Itu semuanya bujuk rayu syetan
Seperti minuman, juga perempuan
Supaya manusia berdosa

Begitulah syetan menggoda
Kepada semua manusia
Maka waspadalah sesungguhnya syetan
Musuh manusia yang nyata

Kiamat
Gunung-gunung yang kukuh terpancang
Hari itu akan diterbangkan
Gedung-gedung yang tinggi menjulang
Hari itu akan ditumbangkan

Hari itu hari kiamat
Hari yang menghancurkan jagat
Hari itu hari kiamat
Hari yang menghancurkan umat

Lautan yang selalu bergelombang
Hari itu akan ditumpahkan
Langit yang penuh dengan bintang
Hari itu akan dihempaskan

Hari itu tiada lagi perlindungan
Hari itu tiada lagi pertolongan
Semua orang ketakutan
Jeritan tangis memilukan
Rasa kengerian mencekam
Maut menyelubungi alam

Hari itu tak berguna lagi harta
Hari itu tak berharga lagi nyawa
Semua makhluk dimusnahkan
Seluruh alam dihancurkan
Darah ‘kan menjadi lautan
Kepingan bangkai berserakan

Terangnya cahaya matahari
Hari itu akan dipadamkan
Semuanya isi perut bumi
Hari itu akan dimuntahkan

Kisah di Bulan Juni
Malam purnama menjelang di bulan Juni
Malam purnama menjelang di bulan Juni
Oh, sungguh nikmatnya dan berbahagia

Karena di malam itu aku berdua
Karena di malam itu aku berdua
Oh, mencurahkan rasa kasih berdua

Malam purnama menjelang di bulan Juni

Di situ kisah kumulai bersamanya
Yang telah lama kudambakan berdua
Untuk saling menyatakan rasa cinta
Agar tiada terpendam di jiwa
Oh, aku gembira dia pun bahagia
Aku gembira dia pun bahagia

Oh kini aku dan dia hidup bersama
Oh kini aku dan dia hidup bersama
Oh, jadi suami dan isteri setia

Semoga berbahagia untuk selamanya

Kutunggu
Kutunggu, kutunggu, kau kutunggu
Kunanti, kunanti, kau kunanti
Oh manisku, sayangku
Oh manisku, sayangku

Telah lama, telah lama, ‘ku menunggu
Telah lama, telah lama, ‘ku menanti
Belum juga kau datang
Belum juga kau datang

Kejam, kejam, betapa kejam
Membuat aku lama menanti
Janji, janji, mengapa janji
Kalau tiada engkau tepati

Kurasa engkau pun tahu betapa jemu menanti
Ke Monas (feat. Titing Y.)

Wanita:
Ke mana, ke mana, kita pergi ke mana
Mencari hiburan di malam Minggu ini

Pria:
Mencari, mencari hiburan malam ini
Jangan jauh-jauh, kita ke Monas saja

Wanita:
Ada apakah kiranya di Monas
Hingga kau mengajakku pergi ke sana

Pria:
Apakah engkau benar belum tahu
Ada air mancur yang pandai berjoget

Wanita:
Ha? Bisa joget?

Pria:
Apa kau tak percaya?

Wanita:
Jogetnya seperti manusia?

Pria:
Ya seperti manusia

Wanita:
Musiknya ada nggak?

Pria:
Musiknya tentu ada

Wanita:
Aih, lucu dong ya?

Pria:
Memang lucu sekali

Duet:
Mencari, mencari hiburan malam ini
Jangan jauh-jauh kita ke monas saja
Marilah, marilah pergi sekarang saja
Kita menyaksikan air mancur di sana

0 komentar:

Next Prev
▲Top▲